Tampilkan postingan dengan label Syekh Siti Jenar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syekh Siti Jenar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

Kapan Kitab Serat Bayan Budiman Ditulis

Serat Bayan Budiman merupakan sebuah kitab hasil karya orang jawa yang berasal dari daerah Jawa Timur. Berliau adalah Haji Mustafa yang beralamat di Desa Genuk Watu, Pare, Kediri.

Kitab Serat Bayan Budiman menurut catatan dibuat pada tahun 1859 Jawa atau pada tahun 1929 Masehi dan ditulis dalam Bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Pegon atau Arab Melayu yang terbagi ke dalam beberapa kelompok tembang.


Penunjuk tahun itu menandai kitab ini sedikit lebih tua sedikit atau sezaman dengan serat-serat yang menjelaskan pandangan Syekh Siti Jenar.

Banyak versi yang merupakan salinan ke dalam bahasa Indonesia yang beredar. Diantaranya adalah Serat Syekh Siti Jenar karya dari R. Sastrowijoyo yang dikeluarkan pada tahun 1956.

Memang masih belum jelas kebenarannya hingga saat ini siapa pengarang pertamanya.

Selain serat yang populer di kalangan rakyat kebanyakan, juga banyak serat yang beredar di kalangan elite kerajaan. Berbagai macam bentuk sastra ditulis berbahasa Jawa dalam bentuk tembang.

Yang populer diantara semuanya adalah kitab Bayan Budiman yang amat populer di Jawa Timur sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini terus berlangsung dan bertahan hingga sekitar tahun 60-an.



Rabu, 17 April 2013

Makrifat Dalam Bismillah dan Doa

Dalam serat bayan budiman dijelaskan bahwa setiap surat dan Al Quran kecuali surat At Taubah selalu diawali dengan Basmalah. Perkataan ini muncul pertama kali dalam serat bayan budiman ketika burung Bayan menjawab pertanyaan burung Menco tentang makna kalimat "Bismillah" dalam Kitab Serat Bayan Budiman.


Bayan Budiman lalu menjelaskan mengapa demikian adalah karena Tuhan menjadikan tahun dalam 12 bulan dihiasi bulan Ramadan. Di dalam setiap bulan yang 30 hari dihiasi hari Jumat, langit tujuh dihiasi matahari dan bulan, Al Quran dihiasi dengan "Bismillah". Tuhan menobatkan Nabi Muhammad SAW dengan agama yang dihiasi shalat lima kali. Seumpama orang hidup, shalat itu menjadi pertanda penegakan agama yang jika meninggalkan shalat tak dapat diganti dengan sedekah 1 kwintal emas. Tapi hal ini akan sangat tergantung bagaimana laku ibadah itu diberi makna bukan sekedar aturan dan tindakan sistematis dan formal, melainkan dalam tataran kearifan batin.

Hikmah dan Derajat Lafadz Bismillah

Sementara itu, hikmah dan derajat lafadz Bismillah, tergantung atas pekerjaan apa yang akan dilakukan. Ia bisa berarti wajib atau sunnah, jika pekerjaan itu wajib maka ia menjadi wajib, jika haram atau makruh maka menjadi haram atau makruh. Bismillah ditulis lebih dulu karena pada waktu zaman Dlurriyyat di Lauhil Mahfudz ketika Tuhan memanggil dan dijawab "Alastu Birabbikum". Tuhan lalu berfirman "Bala-". Huruf sin berlekuk tiga sebagai simbol sirotol mustaqin yang juga berlekuk tiga sebagai simbol perjalanan selama 3 ribu tahun.


Lafadz Bismillah itu ada empat kalimat karena bengawan surga juga ada empat macam, yaitu:
1. Air Tawar.
2. Air Madu.
3. Air Susu.
4. Air Manis.

Jumlah hurufnya ada 19 karena malaikat penjaga neraka yang disebut Zabaniyyah itu terdiri dari 19 kelompok. Siapa yang membaca bismillah dalam shalat sesudah takbir, dosanya akan diampuni. Dengan meminum empat air di bengawan surga itu maka seseorang akan selamat dari siksa neraka Jahanam.

Karena itu pulalah mengapa Syeikh Siti Jenar siang malam selalu menyucikan budi dan menguasai ilmu luhur, semua itu demi kemuliaan jiwanya dan manusia lainnya menuju kehidupan yang hakiki yang terlukis dalam kata "Bismillah" tersebut. Hal ini tercermin saat eksekusi mati yang dijatuhkan kepadanya. Ia justru memilih jalan kematiannya sendiri.

Dalam kitab bayan budiman, burung bayan mengajarkan cara memohon kepada Tuhan untuk menggapai kemuliaan hidup secara sederhana. Hal ini bisa dibaca bahwa ajaran Syeikh Siti Jenar merupakan laku tingkat tinggi, sedangkan fatwa burung bayan lebih merupakan penyederhanaan dari hubungan manusia dengan Tuhan.


DOA

Kalau Syeikh Siti Jenar sampai pada tingkatan "tidak ada jarak" antara manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti), dalam fatwa burung bayan masih diperlihatkan jarak itu. Namun, perlu dimengerti bahwa itu bukan sesuatu yang berbeda tapi merupakan petunjuk jalan ke arah ajaran "wahdatul wujud" Siti Jenar. Untuk sampai pada tahapan kasampurnan Siti Jenar, perlu dimengerti terlebih dahulu tahap-tahap pencapaiannya dalam hal ini seperti yang disampaikan burung bayan tentang cara melakukan doa agar terkabul.

Bayan menjelaskan bahwa syarat-syarat doa agar bisa terkabul itu ada 4 hal, yaitu:
1. Khusyuk dan hadir ketika berdoa.
2. Tanpa keraguan ketika memohon kepada Allah SWT.
3. Membaca Alhamdulillah atau memuji kepada Dzt yang memberi hidup.
4. Orang yang berdoa itu perbuatannya dan makanannya harus halal.

Jika semuanya bisa dipenuhi, insya Allah doamu akan dikabulkan.

Konsep doa dalam ajaran kasampurnan adalah mengarah pada kemuliaan hidup. Karena itu ujungnya adalah masuk pada ketiadaan diri, hanya Allah SWT sajalah yang ada. Bahwasanya yang layak dipuji hanyalah Allah SWT, tiada sesuatupun dari manusia yang layak dipuji. Karena, segala yang terpuji (Nur Muhammad) itu datangnya dari Allah SWT. Dan karena ujungnya adalah sifat keterpujian, maka tak layak ada yang haram masuk ke dalam tubuh manusia itu. Dengan memasukkan hal-hal yang tidak halal dalam tubuh sama artinya menjauhkan diri dari keterpujian atau kemuliaan hidup.

Cara berdoa di atas pada akhirnya juga berhubungan dengan latihan rohani guna mencapai kasampurnan yang berkaitan dengan konsep surga dan neraka. Konsep surga dan neraka yang banyak dikembangkan ulama syariah dan kalam, agak sedikit berbeda dengan kaum sufi. Ajaran tentang surga dan neraka dalam pemikiran ulama kalam dan syariah tersebut tampak dipengaruhi konsep tentang "Tuhan Baik" dan "Tuhan Jahat". Adanya surga dan neraka sebagai 2 tempat eksistensial berada di wilayah kesadaran manusia seakan Islam mengenalkan dua jalan ke arah masing-masing Tuhan, atau ada jalan ke arah Tuhan Jahat tersebut.


Beda Surga dan Neraka di Ajaran Makrifat

Tuhan pun seringkali digambarkan sebagai hakim yang keras dan penghukum. Hal ini berbeda dengan konsep cinta atau hubb kaum sufi dalam berhubungan dengan interaksi antar manusia dan sesama makhluk.

Karena itu, tampaknya penting untuk dimengerti bahwa konsep Tuhan Jahat atau hakim yang keras sungguh berbeda dengan ajaran kasampurnan dalam ajaran sufi dan Syeikh Siti Jenar seperti yang diperlihatkan dalam kisah-kisah makrifat Kitab Bayan Budiman. Dalam ajaran Kasampurnan, neraka sesungguhnya hanyalah hadir sebagai bayang-bayang yang menutupi surga, sehingga doa menjadi mungkin dan tabir surga atau neraka bisa dibuka. Hal ini juga terlihat dalam doktrin bahwa surga itu selalu ditabiri oleh penderitaan dan sebaliknya neraka dengan segala kenikmatan.


Fenomena Siang, Malam dan Gerhana

Seperti gambaran siang dan malam, sesungguhnya malam itu tidak ada kalau saja sinar matahari tak pernah terhalang bumi untuk sampai pada manusia. Demikian juga, neraka itu tidak pernah ada kalau saja manusia itu tidak pernah terhalangi dirinya untuk sampai pada Tuhannya. Karena itu, untuk sebuah kemuliaan hidup, manusia harus melampaui dirinya hingga sampai pada Tuhannya.

Itulah yang diajarkan kanjeng Nabi dengan konsep jihad Akbar sebagai sebuah pertarungan untuk bisa melampaui dan agar bisa mengalahkan diri atau kedirian seseorang.

Itulah makna yang dijelaskan secara singkat dalam Kitab Bayan Budiman tentang fenomena Matahari, Bulan dan Gerhana.
"Lalu, apa bedanya matahari dan bulan," tanya burung Menco kepada Bayan Budiman.
Selanjutnya burnag Bayan menjawab pertanyaan Menco dan menjelaskan bahwa matahari menjadi pertanda waktu shalat dan puasa. Sedangkan bulan itu tidak tiap saat diterima sujudnya kecuali hanya pada tanggal 15. Adanya gerhana adalah untuk menolak perbuatan orang kafir dan majusi yang menyembah matahari. Dengan gerhana, Tuhan menunjukkan bahwa matahari dan bulan bukanlah Tuhan karena berubah-ubah.

Rabu, 16 Februari 2011

Syekh Siti Jenar | Kitab Bayan

Syekh Siti Jenar yang ada dalam postingan ini karena serat bayan budiman juga menyebutkan demikian dengan alasan karena berisi penjelasan tentang sikap hidup manusia muslim yang mencerminkan konsep Wahdatul Wujud yang menjdi inti ajaran Syekh Siti Jenar.

Kalau dalam bahasa Jawa berart Warongko Manjing Curigo yang tersaji dengan konteks hidup praktis keseharian dan dikaitkan kasus-kasus khusus, terutama dalam kaitan politik kekuasaan dan ekonomi.

Namun ajaran makrifat dan kesatuan kawula-Gusti atau Wahdatul Wujud dam kitab Bayan Budiman tersebut agak berbeda dengan uraian tentang ajaran Syekh Siti Jenar yang selama ini kita kenal.
Selama ini umumnya, orang memandang bahwa ajaran Syekh Siti Jenar hanya mengandalkan hakikat, sehingga Walisanga meletakkan ajaran Syekh Siti Jenar sebagai ancaman.

Kalau dipikir secara nalar dan logika, apakah sesat ajaran seorang yang mempunyai nama bergelar SYEKH...
Dimana tingkatan ini adalah sebuah tingkatan yang tinggi dalam ilmu Makrifat.
Hanya mungkin saja seseorang menyalahgunakan atau menambah-nambahi tentang arti dan ajaran Wahdatul Wujud ini.

Karena banyak manusia dan murid dari Syekh Siti Jenar ini yang tak mampu menerima ajaran dari Sang Syekh yangpadahal benar (entah salah persepsi atau salah mengartikan), maka Walisongo bertindak tegas demi berkembangnya Umat Islam di tanah Jawa ini.
Wallahu A'lam..

Categories

Alim (2) Burung Surga (2) Makrifat Guru Sejati (4) Matematika Syekh (5) Sekapur Sirih (1) Sufi (6) Syariah (2) Syekh Siti Jenar (3)