Selasa, 18 Agustus 2015

Kapan Kitab Serat Bayan Budiman Ditulis

Serat Bayan Budiman merupakan sebuah kitab hasil karya orang jawa yang berasal dari daerah Jawa Timur. Berliau adalah Haji Mustafa yang beralamat di Desa Genuk Watu, Pare, Kediri.

Kitab Serat Bayan Budiman menurut catatan dibuat pada tahun 1859 Jawa atau pada tahun 1929 Masehi dan ditulis dalam Bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Pegon atau Arab Melayu yang terbagi ke dalam beberapa kelompok tembang.


Penunjuk tahun itu menandai kitab ini sedikit lebih tua sedikit atau sezaman dengan serat-serat yang menjelaskan pandangan Syekh Siti Jenar.

Banyak versi yang merupakan salinan ke dalam bahasa Indonesia yang beredar. Diantaranya adalah Serat Syekh Siti Jenar karya dari R. Sastrowijoyo yang dikeluarkan pada tahun 1956.

Memang masih belum jelas kebenarannya hingga saat ini siapa pengarang pertamanya.

Selain serat yang populer di kalangan rakyat kebanyakan, juga banyak serat yang beredar di kalangan elite kerajaan. Berbagai macam bentuk sastra ditulis berbahasa Jawa dalam bentuk tembang.

Yang populer diantara semuanya adalah kitab Bayan Budiman yang amat populer di Jawa Timur sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini terus berlangsung dan bertahan hingga sekitar tahun 60-an.



Rabu, 29 Mei 2013

Bisakah Belajar Makrifat dari Rakyat Awam

Netralitas keagamaan akan berubah menjadi kepentingan ekonomi dan politik dalam tata pergaulan dunia era pasca-industri. Lebih kritis lagi ketika diletakkan dalam perspektif ramalan futurolog mengenai benturan peradaban dan kebangkitan keagamaan di belahan Asia Afrika.

Perdebatan fungsi agama sebagai perekat sosial atau pemicu konflik kembali menjadi aktual.
Padahal, dalam serangkaian konflik yang terjadi, faktor sosial ekonomi dan politik selalu terlibat. Di sinilah konsep dan kebijakan kerukuan beragama dalam kerangka kebangsaan selama ini perlu dikaji ulang. Konsep itu ternyata gagal menjamin terhindarnya konflik atas nama agama.

Masing-Masing Berpindirian Agamanya Benar

Setiap pemeluk agama menyakini kebenaran agamanya dengan misi suci dakwah penyelamatan.
Namun, ide dasar dakwah penyelamatan bagi pemuliaan manusia gagal menjanjikan hidup tenteram dan kedamaian. Orang yang tak memenuhi seruan dakwah keselamatan ditempatkan di luar wilayah surgawi. Tidak hanya dituduh sesat dan melanggar kebenaran, bahkan dianggap menentang dan merusaka kesucian agama.

Soalnya adalah terbatasnya wawasan keagamaan publik atas ajaran agamanya. Dakwah keselamatan bukan penempatan manusia sebagai hakim imam, akan tetapi penempatan semua manusia dalam kemahaluasan ampunan Tuhan.
Kerukunan bukanlah hanya sekedar komunikasi antar pemeluk, tetapi dialog kreatif dan dialogis pengalaman beriman. Perlu dibuka dialog kebertuhanan dan keberagamaan tanpa khawatir erosi keimanan.

Wawasan keagamaan publik akan memperkaya pengalaman bertuhan dan beragama anatar pemeluk dan antar pemahaman yang berbeda atas suatu teks ajaran. Hal ini sangatlah penting di tengah peradaban dunia yang semakin terbuka dan menyatu. Cara memahami realitas diri dalam relasi dengan agama dan Tuhanlah yang menjadi persoalan.

Setap ajaran agama dengan gigihnya mempromosikan cinta kasih dan kedamaian hidup.
Sementara itu, setiap manusia dengan mudah menjadikan Tuhan dan agama menurut visinya sebagai legitimasi kehendak dan kepentingannya. Hal ini sering dilakukan dengan menindas untuk menang di atas penderitaan orang lain.

Di sisi lain, elite komunitas aama sering menguasai kebenaran keagamaan atas nama Tuhan secara hegemonik.
Mereka yang memahami teks ajaran suatu agama merasa piling berhak berbicara atas nama Tuha. Bahkan sering menganggap dirinya sebagai representasi kebenaran dan Tuhan bagi kepentingan kelasnya. Keagamaan rakyat atau yang disebut folk religion yang mayoritas menjadi terpinggir dari surgawi.

Mengingat konflik keagamaan dalam skala yang meluas, penting dicari model keagamaan publik yang merakyat.
Tuhan Maha Tahu dan Pengampun, tafsir firmanNya pun terbuka seluas ketakterhinggan diriNya.
Sayangnya, formula legal formal sepanjang klaim elite agama sering mereduksi Kemahaluasan ampunan Tuhan sendiri.

Antara Awam dan Elite

Tanpa wawasan dan kearifan rakyat, surga Tuhan akan menjadi hegemoni elite suatu komunitas agama.
Orang yang awam atas makna teks verbal akan terasing dari wilayah surgawi. Mereka mungkin memiliki kesadaran dan pengalaman kebertuhanan dan keberagamaan jauh lebih kaya, lebih luas dan lebih mendalam.

Melalui wawasan dan kearifan rakyat dalam kebertuhanan dan keberagamaan akan terbuka perspektif baru yang luas dalam melihat kebenaran dan kepemelukan agama lain. Selain itu, dharapkan dapat tumbuh penghargaan terhadap pemeluk agama lain dalam apresiasi kebertuhanan dan keberagamaan.

Berbeda dari kelas elite, rakyat adalah mayoritas publik yang biasanya awam dalam memahami teks ajaran agama yang dipeluknya. Visi kebertuhanan dan keberagamaan mayoritas publik ini cenderung beragam sepanjang sosial dan sejarah hidupnya. Selain itu, mereka lebih cenderung bersikap terbuka dalam beragama yang diberi simbol akademik sinkretisme.

Dalam satu hal, sinkretisme (sintesa) mencerminkan keterbukaan dalam kebertuhanan dan keberagamaan.
Nilai keterbukaan sinkretisme itulah yang perlu dikembangkan sebagai wacana etik kebertuhanan dan keberagamaan. Selanjutnya dikembangkan kualitas kebertuhanan dan keberagamaan sesuai dengan teks verbal dan aktual ajaran agama yang hidup dan dipeluk suatu komunitas secara dinamis dan dialogis.

Hanya Tuhan yang Berhak Menghukum

Mayoritas rakyat biasanya merasa tidak memiliki hak mengklaim kebenaran atas nama Tuhan.
Namun, keagamaan justru lebih menumbuhkan kearifan kebertuhanan dan keberagamaan. Sayangnya, fenomena kebertuhanan dan keberagamaan rakyat sering menjadi kecaman dakwah keselamatan dalam elitisme keagamaan.

Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan mengembangkan suatu kearifan rakyat dalam kebertuhanan dan keberagamaan. Melalui cara demikian dapat dikembangkan suatu model dan pola komunikasi antar pemeluk agama ataupun komunikasi internal dalam komunitas pemeluk suatu agama.
Perlu disadari bahwa dakwah keselamatan hampir setiap agama bermula dari komunitas publik yang awam itu sendiri.

Keawaman beragama bukanlah peringkat surgawi, akan tetapi peringkat keilmuan atas teks verbal dari firman Tuhan.
Kualitas kegamaan tidak diukur dari peringkat keilmuan tetapi kebertuhanan yang secara utuh, disadari yang terintegrasi dalam kehidupan. Jika penerimaan Tuhan atas hambaNya hanya dilihat dari keawaman atas teks firman yang verbal dan formal, Kemahaluasan Tuhan tereduksi oleh batas-batas keverbalan firman dalam pemaknaan formal.

Firman VERBAL hanyalah bentuk kehadiran Tuhan yang maknanya sepadan dengan Kemahaluasan dan Ketakterhinggan Tuhan itu sendiri.
FirmnaNya yang aktual yang tergelar dalam seluruh realitas dinamis cipataanNya yang sebagai sunnatullah dalam ISLAM juga jauh lebih kaya dan tak terhingga dari konsep-konsep.
Karena itu, ksedaran bahwa Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Pengampun perlu diaktualkan dalam realitas kehidupan.

Perlunya Makrifat

Perlu dikaji ulang, apakah seseorang lahir dalam komunitas berbeda agama, maka ia harus kehilangan hak surgawi.
Apakah orang yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan Kristen atau Katolik, Muhammadiyah atau NU harus kehilangan hak memperoleh ampunan tak terhingga Tuhan...
Jaminan rahmat Tuhan bukan hak setiap kelompok keagamaan, akan tetapi hak mutlak Tuhan sendiri.

Dalam praktek keagamaan, kemanusiaan sering tertindas hanya karena pemeluk suatu agama bertindak sebagai Tuhan yang berhak menghukum.
Setiap agama mengajarkan hanya Tuhanlah yang berhak menghukum siapa saja yang dikehendaki dan hanya Tuhan yang berhak berlaku sombong karena Dia Maha Besar, Maha Kuasa dan Maha Esa. Kesombongan dan kecongkakan serta penindasan manusia atas nama agama dan Tuhan, justru dikecam keras oleh tiap ajaran agama.

Kearifan (makrifat) publik dalam kebertuhanan dan keberagamaan akan membuka komunikasi kemanusiaan pemeluk agama dalam pemahaman yang berbeda.
Inilah paradigma dasar kerukunan kemanusiaan dalam beragama dan bertuhan. Kemanusiaan adalah nilai universal dalam dakwah keselamatan dari semua agama besar di dunia ini.

Pengembangan wawasan dan kearifan publik kemanusiaan adalah basis paling dasar bagi kerukunan kehidupan beragama yang tek terhienti hanya sebagai komunikasi antar pemeluk agama.

Rabu, 17 April 2013

Makrifat Dalam Bismillah dan Doa

Dalam serat bayan budiman dijelaskan bahwa setiap surat dan Al Quran kecuali surat At Taubah selalu diawali dengan Basmalah. Perkataan ini muncul pertama kali dalam serat bayan budiman ketika burung Bayan menjawab pertanyaan burung Menco tentang makna kalimat "Bismillah" dalam Kitab Serat Bayan Budiman.


Bayan Budiman lalu menjelaskan mengapa demikian adalah karena Tuhan menjadikan tahun dalam 12 bulan dihiasi bulan Ramadan. Di dalam setiap bulan yang 30 hari dihiasi hari Jumat, langit tujuh dihiasi matahari dan bulan, Al Quran dihiasi dengan "Bismillah". Tuhan menobatkan Nabi Muhammad SAW dengan agama yang dihiasi shalat lima kali. Seumpama orang hidup, shalat itu menjadi pertanda penegakan agama yang jika meninggalkan shalat tak dapat diganti dengan sedekah 1 kwintal emas. Tapi hal ini akan sangat tergantung bagaimana laku ibadah itu diberi makna bukan sekedar aturan dan tindakan sistematis dan formal, melainkan dalam tataran kearifan batin.

Hikmah dan Derajat Lafadz Bismillah

Sementara itu, hikmah dan derajat lafadz Bismillah, tergantung atas pekerjaan apa yang akan dilakukan. Ia bisa berarti wajib atau sunnah, jika pekerjaan itu wajib maka ia menjadi wajib, jika haram atau makruh maka menjadi haram atau makruh. Bismillah ditulis lebih dulu karena pada waktu zaman Dlurriyyat di Lauhil Mahfudz ketika Tuhan memanggil dan dijawab "Alastu Birabbikum". Tuhan lalu berfirman "Bala-". Huruf sin berlekuk tiga sebagai simbol sirotol mustaqin yang juga berlekuk tiga sebagai simbol perjalanan selama 3 ribu tahun.


Lafadz Bismillah itu ada empat kalimat karena bengawan surga juga ada empat macam, yaitu:
1. Air Tawar.
2. Air Madu.
3. Air Susu.
4. Air Manis.

Jumlah hurufnya ada 19 karena malaikat penjaga neraka yang disebut Zabaniyyah itu terdiri dari 19 kelompok. Siapa yang membaca bismillah dalam shalat sesudah takbir, dosanya akan diampuni. Dengan meminum empat air di bengawan surga itu maka seseorang akan selamat dari siksa neraka Jahanam.

Karena itu pulalah mengapa Syeikh Siti Jenar siang malam selalu menyucikan budi dan menguasai ilmu luhur, semua itu demi kemuliaan jiwanya dan manusia lainnya menuju kehidupan yang hakiki yang terlukis dalam kata "Bismillah" tersebut. Hal ini tercermin saat eksekusi mati yang dijatuhkan kepadanya. Ia justru memilih jalan kematiannya sendiri.

Dalam kitab bayan budiman, burung bayan mengajarkan cara memohon kepada Tuhan untuk menggapai kemuliaan hidup secara sederhana. Hal ini bisa dibaca bahwa ajaran Syeikh Siti Jenar merupakan laku tingkat tinggi, sedangkan fatwa burung bayan lebih merupakan penyederhanaan dari hubungan manusia dengan Tuhan.


DOA

Kalau Syeikh Siti Jenar sampai pada tingkatan "tidak ada jarak" antara manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti), dalam fatwa burung bayan masih diperlihatkan jarak itu. Namun, perlu dimengerti bahwa itu bukan sesuatu yang berbeda tapi merupakan petunjuk jalan ke arah ajaran "wahdatul wujud" Siti Jenar. Untuk sampai pada tahapan kasampurnan Siti Jenar, perlu dimengerti terlebih dahulu tahap-tahap pencapaiannya dalam hal ini seperti yang disampaikan burung bayan tentang cara melakukan doa agar terkabul.

Bayan menjelaskan bahwa syarat-syarat doa agar bisa terkabul itu ada 4 hal, yaitu:
1. Khusyuk dan hadir ketika berdoa.
2. Tanpa keraguan ketika memohon kepada Allah SWT.
3. Membaca Alhamdulillah atau memuji kepada Dzt yang memberi hidup.
4. Orang yang berdoa itu perbuatannya dan makanannya harus halal.

Jika semuanya bisa dipenuhi, insya Allah doamu akan dikabulkan.

Konsep doa dalam ajaran kasampurnan adalah mengarah pada kemuliaan hidup. Karena itu ujungnya adalah masuk pada ketiadaan diri, hanya Allah SWT sajalah yang ada. Bahwasanya yang layak dipuji hanyalah Allah SWT, tiada sesuatupun dari manusia yang layak dipuji. Karena, segala yang terpuji (Nur Muhammad) itu datangnya dari Allah SWT. Dan karena ujungnya adalah sifat keterpujian, maka tak layak ada yang haram masuk ke dalam tubuh manusia itu. Dengan memasukkan hal-hal yang tidak halal dalam tubuh sama artinya menjauhkan diri dari keterpujian atau kemuliaan hidup.

Cara berdoa di atas pada akhirnya juga berhubungan dengan latihan rohani guna mencapai kasampurnan yang berkaitan dengan konsep surga dan neraka. Konsep surga dan neraka yang banyak dikembangkan ulama syariah dan kalam, agak sedikit berbeda dengan kaum sufi. Ajaran tentang surga dan neraka dalam pemikiran ulama kalam dan syariah tersebut tampak dipengaruhi konsep tentang "Tuhan Baik" dan "Tuhan Jahat". Adanya surga dan neraka sebagai 2 tempat eksistensial berada di wilayah kesadaran manusia seakan Islam mengenalkan dua jalan ke arah masing-masing Tuhan, atau ada jalan ke arah Tuhan Jahat tersebut.


Beda Surga dan Neraka di Ajaran Makrifat

Tuhan pun seringkali digambarkan sebagai hakim yang keras dan penghukum. Hal ini berbeda dengan konsep cinta atau hubb kaum sufi dalam berhubungan dengan interaksi antar manusia dan sesama makhluk.

Karena itu, tampaknya penting untuk dimengerti bahwa konsep Tuhan Jahat atau hakim yang keras sungguh berbeda dengan ajaran kasampurnan dalam ajaran sufi dan Syeikh Siti Jenar seperti yang diperlihatkan dalam kisah-kisah makrifat Kitab Bayan Budiman. Dalam ajaran Kasampurnan, neraka sesungguhnya hanyalah hadir sebagai bayang-bayang yang menutupi surga, sehingga doa menjadi mungkin dan tabir surga atau neraka bisa dibuka. Hal ini juga terlihat dalam doktrin bahwa surga itu selalu ditabiri oleh penderitaan dan sebaliknya neraka dengan segala kenikmatan.


Fenomena Siang, Malam dan Gerhana

Seperti gambaran siang dan malam, sesungguhnya malam itu tidak ada kalau saja sinar matahari tak pernah terhalang bumi untuk sampai pada manusia. Demikian juga, neraka itu tidak pernah ada kalau saja manusia itu tidak pernah terhalangi dirinya untuk sampai pada Tuhannya. Karena itu, untuk sebuah kemuliaan hidup, manusia harus melampaui dirinya hingga sampai pada Tuhannya.

Itulah yang diajarkan kanjeng Nabi dengan konsep jihad Akbar sebagai sebuah pertarungan untuk bisa melampaui dan agar bisa mengalahkan diri atau kedirian seseorang.

Itulah makna yang dijelaskan secara singkat dalam Kitab Bayan Budiman tentang fenomena Matahari, Bulan dan Gerhana.
"Lalu, apa bedanya matahari dan bulan," tanya burung Menco kepada Bayan Budiman.
Selanjutnya burnag Bayan menjawab pertanyaan Menco dan menjelaskan bahwa matahari menjadi pertanda waktu shalat dan puasa. Sedangkan bulan itu tidak tiap saat diterima sujudnya kecuali hanya pada tanggal 15. Adanya gerhana adalah untuk menolak perbuatan orang kafir dan majusi yang menyembah matahari. Dengan gerhana, Tuhan menunjukkan bahwa matahari dan bulan bukanlah Tuhan karena berubah-ubah.

Jumat, 05 April 2013

Arti Makrifat Menurut Imam Al-Ghazali

Walaupun tahap akhir dari perjalanan rohani kaum sufi masih menjadi perdebatan, namun makrifat sebagai konsep dan sebagai tahap atau maqom yang lebih dikenal luas di kalangan penganut sufi ketimbang pemeluk Islam awam atau ulama.

Sebagai tahapan rohani makrifat mendasari kemampuan-kemampuan rohani berikut dan sebagai tindakan ia menjadi jalan untuk memperoleh pengetahuan dan memahami realitas diri atau alam dan masyarakat.

Dari sini pula kemampuan makrifat dihubungkan dengan hampir semua tahap rohani sufistik hingga pencapaian ittihad (Kesatuan manusia - Tuhan) dan suatu pencapaian kasaampurnaan yang dikenal sebagai Insan Kamil atau manusia sempurna.

Makrifat berarti pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang bagi umumnya kaum sufi merupzkan pemerian dan rahmat dari Allah SWT sebagai suatu kemampuan mengetahui dan melihat Allah SWT dari dekat tanpa perantara nama atau sifat-sifat Tuhan tu sendiri.

Ini pula yang dinyatakan oleh Syekh Siti Jenar bahwa penyebutan nama-nama atau sifat-sifat Tuhan sebagai petunjuk belum sepurnanya ilmu seseorang, karena nama dan sifat bukanlah Dzat-Nya.

Makrifat Menurut Imam Al-Ghazali

Demikian pula bagi Imam Al-Ghazali, penyebutan nama dan sifat Tuhan berarti belum mencapai kedekatan karena orang yang dekat dengan sesuatu tak perlu lagi menyebut nama dan sifat susuatu tersebut. Sehingga Imam Al-Ghazali memaknai makrifat merupakan suatu maqam yang tertinggi yang bisa diapai oleh seorang sufi.