Tampilkan postingan dengan label Matematika Syekh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matematika Syekh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2018

Sedikit Rahasia Matematika Syekh Siti Jenar - Ketakterhinggan Aku

Perl
+u diketahui oleh semuanya bahwa dalam ilmu matematika, serat bayan budiman bisa diibaratkan teori limit untuk memahami ajaran Syekh Siti Jenar.

Manunggaling Kawulo Gusti yang diajarkannya adalah sebuah bentuk ajaran menembusa rahasia ketakterhinggaan (~).

Dalam matematika, siapa saja yang mampu menembus rahasia ketakterhinggaan, maka ia akan bisa menemukan sejumlah kerelatifan nilai (ke-aku-an).

Untuk memahaminya, kita perlu mengerti bahwa dalam teori limit matematika 1/0 (satu dibagi nol) sama dengan ~ (tak terhingga). Selanjutnya juga perlu dipahami sistem pengerjaan seperti di bawah ini.

Jika X=Y, maka X/Y= Y/X (X dibagi Z sama dengan Y dibagi Z).

Dari sitem pengerjaan tadi maka kita dapat membuat sebuah sistem operasi matematika untuk memahami sjsrsn Syekh Siti Jenar, seperti yang tertera di bawah ini.

0 (nol) = 0 (nol)
0 x 7 = 0 x 1000 (sampai di sini operasi pengerjaan ini masih bisa diterima oleh penganut "syariat" matematika.

Jika memakai dalil di atas, X=Y, maka X/Z=Y/Z, maka kita bisa memasuki suatu sistem pengerjaan yang bagi kaum "syariat" matematika akan melahirkan kekacuan jagad sebagaimana kekacauan yang disebabkan ajaran Syekh Siti Jenar.

0x7/0 = 0x1000/0
(nol kali tujuh dibagi nol sama dengan nol kali seribu dibagi nol).

Dengan cara pengerjaan tersebut, maka terbongkarlah sesungguhnya rahasia angka-angka, 1,2,3.9,1000,10000 atau berapapun itu sama saja, tidak ada bedanya sama sekali.

Dalam bahasa agamanya, raja, presiden, pengemis, politisi dan sebagainya itu sama saja jika dihadapkan pada mereka-mereka yang mampu menembus rahasia ketakterhinggaan (yang membolehkan pembagian angka nol : menenggelamkan kebulatan dunia sebagai pusat orientasi). yaitu mereka yang meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia.

Selasa, 01 Maret 2011

Ketakterhinggaan Sang Aku

Dalam ilmu matematika, serat bayan budiman bisa diibaratkan teori limit untuk memahami ajaran Syekh Siti Jenar.
Manunggaling kawulo Gusti yang diajarkannya adalah sebuah bentuk ajaran untuk menembus rahasia ketakterhinggaan.
Dalam matematika, siapa saja yang mampu menembus rahasia ketkterhinggaan maka ia akan bisa menemukan sejumlah kerelatifan nilai ke-aku-an.

Untuk memahaminya kita perlu mengerti bahwa dalam teori limit matematika, satu dibagi nol sama dengan tak terhingga.
Selanjutnya juga perlu dipahami sistem pengerjaan sebagai berikut:
Jika X=Y maka X/Y=Y/Z

Dari sistem pengerjaan tadi maka kita akan bisa buat sebuah sistem operasi metematika untuk memahami ajaran Syekh Siti Jenar.
Nol=Nol
Nol x 7 = Nol x 1000
Sampai disini operasi pengerjaan ini masih bisa diterima oleh kaum penganut syariat matematika.

Jika memakai dalil di atas, X=Y maka X/Z=Y/Z maka kita bisa memasuki suatu sistem pengerjaan yang bagi kaum syariat matematika akan melahirkan kekacauan jagad sebagaimana kekacauan yang disebabkan ajaran Siti Jenar:
0 x 7/0 = 0 x 1000/0

Selanjutnya jika ketakterhinggaan ditembus (yang membolehkan pembagian 0 dibagi 0 dengan hukum X dibagi X sama dengan 1) maka akan terungkap rahasia keakuan bahwa ternyata seribu pun sama dengan tujuh.
0 x 7/0 = 0 x 1000/0
1 x 7 = 1 x 1000
7 = 1000.

Dengan cara pengerjaan tersebut, maka terbongkarlah sesungguhnya rahasia angka-angka 1, 2, 3, 9, 1000, 100000 atau berapapun itu sama saja, tidak ada bedanya.
Itu dalam bahasa agamanya, raja, presiden, kere, gembel, pengemis, seniman, kyai, wali, politisi, karyawan, pegawai negeri itu sama saja jika dihadapkan pada mereka-mereka yang mampu menembus rahasia ketakterhinggaan (yang membolehkan pembagian dengan angka nol: menenggelamkan kebulatan dunia sebagai pusat orientasi), yaitu mereka yang meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia.

Dalam logika "WALI" ilmu matematika, pembagian dengan angka nol jelaslah melanggar "Syariat Matematika" dan hanya akan merusak jagad perhitungan matematika.

Kamis, 17 Februari 2011

Alasan Syekh Siti Jenar Menolak Panggilan Sultan Demak

Pada postingan sebelumnya adalah bahwa kancil menjelaskan kepada gajah tentang dua Gusti.
Panggilan Gusti Katon (Raja Sulaiman), ditolak oleh si kancil karena lebih mementingkan panggilan Gusti Agung.

Kisah penjelasan inilah yang bisa dijadikan kiasan, atau membandingkan argumentasi Syekh Siti Jenar yang menolah panggilan Sultan Demak melalui perantaraan Sunan Bonang.

Kita simak kutipan berikut ini:
"Mendengar apa yang dikatakan Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar menjawab:
Bonang! Kamu mengundang saya datang ke Demak, akan tetapi saya ini malas untuk datang ke Demak.
Alasannya, karena saya merasa tidak berada di bawah atau diperintah oleh siapa pun, kecuali oleh hati saya.

Perintah hati itulah yang saya patuhi perintahnya.
Bukankah kita sesama mayat?
Mengapa seseorang memerintah orang lain?
Manusia itu sama antara yang satu dengan yang lain, sama-sama tidak mengetahui siapa Hyang Sukma, karena yang disembah itu hanyalah nama-Nya saja.

Meskipun demikian, banyak kaum santri yang bersikap sombong dan merasa berkuasa memerintah sesama bangkai.
Jika kamu ingin mengadu ilmu, khusus mengenai rasa ilmu, mari dilakukan di sini saja, asal kita berpegangan pada kitab Balal Mubarak.

Sekalipun yang menggubah isi kitab itu juga orang mati, akan tetapi kita yang menggunakannya pun ternyata sesama orang mati.

Itulah jawaban dari Syekh Siti Jenar ketika menolak panggilan Sultan Demak.
Untuk postingan berikutnya akan meneliti tingkat logika dari alasan itu.

Ejekan Si Kancil Kepada Gajah | Memahami Matematika Syekh Siti Jenar

Sebagai lanjutan dari Si Kancil dan Kuda | Memahami Matematika Syekh Siti Jenar.
Kemarin telah disebutkan bahwa si kancil ini telah sedikit mengejek si gajah.
Kancil bilang kalau gajah yang hidungnya besar dan panjang dan badannya bagaikan gunung, tetapi maksud dua ratu saja tidak mengerti.

Padahal semua makhluk yang hidup mempunyai dua ratu, yang pertama itu adalah Ratu Agung (Raja Besar) dan yang kedua adalah Gusti Katon (Raja yang terlihat / Raja Dunia).
Jika salah satu perintahnya tidak dipenuhi akan mendatangkan kecelakaan.
Jika gajah kurang percaya dianjurkan untuk mengingat dalil athi'llah wa athi'ur rasul dan lagi wa ulil amri minkum.

Dalam kasus panggilan yang lalu, kelihatannya saya (kancil) ini tidak memenuhi perintah Raja Katon, padahal saat itu saya tengah memenuhi perintah Gusti Maha Agung yang pada saat yang sama juga memanggilku.

Kutipan di atas adalah bagian dari serat bayan budiman yang mengisahkan pemanggilan kancil oleh Raja (Nabi) Sulaiman / Raja dari semua raja yang tidak ada duanya setelahnya yang akan hidup di muka bumi ini.
Pada panggilan pertama, kancil tidak bersedia menghadap sang raja dengan alasan sakit, sehingga membuat sang raja agak marah padanya.

Karena selama ini raja merasa tidak ada satu pun makhluk yang berani menolak perintahnya,namun kenapa si kancil yang kecil itu tiba-tiba berani menolak perintahnya.

Rabu, 16 Februari 2011

Si Kancil dan Kuda | Memahami Matematika Syekh Siti Jenar

Dalam serat Bayan Budiman dikisahkan ketika kuda tiba kembali, si Kancil yang tahu gelagat segera berlari mendahului menghadap kepada sang Raja.
Berbeda dengan si Anjing, sambil terus menjulurkan lidah ia justru berlari untuk sembunyi di balik gerumbul.

Namun baunya segera tercium oleh si Kuda.
Anjing pun tak bisa mengelak lalu dikawal menghadap Raja SUlaiman ke istana.
Kancil telah tiba di hadapan sang Gusti Katon, Raja SUlaiman.
Gajah lalu diminta oleh Raja menjelaskan mengapa si Kancil diminta datang pada pisowanan agung di istana tersebut.

Sebelum menjawan si Kancil merasa perlu menkelaskan lebih dahulu mengapa semula ia menolak datang.
Sambil menunduk karena tahu bahwa sang Prabu agak marah, si Kancil menjelaskan bahwa dirinya betul-betul susah bagaimana memenuhi perintah dua ratu yang tidak bisa ditinggalkan salah satu.

Gajah lalu bertanya tentang ratu yang disebut si Kancil karena ia tidak mengerti apa memang ada khalifah yang selain Raja SUlaiman di bumi ini.
Sambil mengejek si Gajah, Kancil menyatakan mengapa gajag yang hidungnya panjang besar dan badannya bagaikan gunung, tetapi maksud dua ratu saja tidak mengerti.

Berlanjut ke:

Ejekan Si Kancil Kepada Gajah | Memahami Matematika Syekh Siti Jenar


Categories

Alim (2) Burung Surga (2) Makrifat Guru Sejati (4) Matematika Syekh (5) Sekapur Sirih (1) Sufi (6) Syariah (2) Syekh Siti Jenar (3)